Masjid Pathok Negoro Mlangi Kesultanan Yogyakarta

Pembahasan kita sekarang adalah Masjid Pathok Negoro Mlangi Kesultanan Yogyakarta. Memasuki Dusun Mlangi, Nogotirto, Gamping, Sleman nuansa religi Islami begitu terasa. Menyusuri jalan kecil di tengah sawah selepas Ring Road Barat menuju dusun di barat Kota Yogyakarta ini, pandangan di kanan kiri didominasi pria bersarung dan mengenakan peci serta pakaian muslimah syar’i untuk kaum wanitanya.

Masjid Pathok Negoro Mlangi

Masjid Pathok Negoro Mlangi Kesultanan Yogyakarta

Masjid Pathok Negara Mlangi yang juga dikenal dengan Masjid Jami’ Mlangi. Masjid ini dibangun tahun 1758 dan memiliki luas bangunan utama 14 x 14 meter persegi. Ditambah luas yang hampir sama untuk bagian serambi. Masjid Jami’ Mlangi merupakan masjid Pathok Negara yang pertama kali dibangun.

Nuansa Islami dari Masjid Jami’ Mlangi ini tidak lepas dari kultur masyarakat setempat yang lekat dengan pondok pesantren. Tidak kurang ada sembilan pesantren besar di Mlangi. Belum lagi tempat-tempat ngaji yang jumlahnya cukup banyak.

Jika mau dirunut lebih jauh lagi, nuansa Islam tersebut tidak akan pernah bisa dilepaskan dari keberadaan sosok BPH Sandiyo atau Kiai Haji Nur Iman yang menjadi cikal bakal warga masyarakat Mlangi saat ini.

Saudara tua Sri Sultan Hamengku Buwono I ini berhasil membangun masyarakat Mlangi yang agamis melalui pesantren dan memusatkan kegiatan di Masjid Pathok Negoro Mlangi, yang akhirnya menjadi satu dari empat Masjid Pathok Negara Kagungan Dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat di wilayah barat.

Untuk memasuki areal Masjid Jami’ Mlangi terlebih dahulu melewati gapura yang berarsitektur khas Kraton Yogyakarta. Beberapa tangga menurun menanti jamaah (pengunjung) yang menunjukkan posisi masjid justru lebih rendah dari daerah sekitarnya. Terdapat tembok besar bercat putih yang mengelilingi.

Pada bagian selatan, utara dan barat masjid terdapat areal pemakaman. Di bagian barat masjid itulah Makam KH Nur Iman yang pusaranya tidak pernah sepi peziarah baik dari dalam dan luar kota.

Arsitektur Masjid Jami Mlangi

Secara fisik, bentuk arsitektur Masjid Pathok Negoro Mlangi hampir sama dengan masjid kagungan dalem yang lain dengan gaya arsitektur Jawa berpenyangga kayu. Setidaknya ada empat saka atau penyangga di tengah bangunan utama. Pada sisi utara masjid terdapat pawestren atau tempat khusus shalat wanita. Sedangkan di bagian depan, tepatnya sisi timur kanan-kiri serta selatan serambi terdapat kolam sebagai tempat membersihkan kaki Jemaah sebelum masuk masjid.

Untuk atap menggunakan model tumpang seperti yang dipakai Masjid Demak. Selain itu juga menggunakan mustaka yang serupa dengan mustaka masjid kagungan dalem lainnya dengan roncean bunga melati dan senjata gadha. Pada bagian dalam masjid juga terdapat mimbar dan bedug yang memberikan ciri khas masjid milik kraton.

Perkembangan Masjid Jami’ Mlangi

Dalam perkembangannya, Masjid Pathok Negoro Mlangi mengalami dua kali renovasi besar semenjak dibangun pertama kali oleh Mbah Nur Iman. Awalnya masjid ini dikelola langsung Kraton Yogyakarta. Namun seiring waktu, tepatnya tahun 1955 saat pemerintahan Sri Sultan HB IX, Kesultanan Yogyakarta menyerahkan kepengurusan dan pengelola masjid pada masyarakat. Sejak saat itulah dilakukan beberapa pembenahan hingga renovasi besar pada tahun 1985.

Dengan seizin Kraton Yogyakarta, untuk mengakomodir Jemaah yang semakin banyak, akhirnya Masjid Jami’ Mlangi dibangun dua lantai. Konsekuensinya, pilar kayu diganti pilar beton. Namun ciri khas atap tetap coba dipertahankan. Hanya saja, kolam yang berada di bagian depan terpaksa dihilangkan.

Namun kini seiring dengan gelora tata ruang keistimewaan, Masjid Pathok Negoro Mlangi yang menjadi salah satu Bangunan Cagar Budaya DIY semaksimal mungkin dikembangkan pada bentuk aslinya. Melalui peran Dinas Kebudayaan DIY, pada 2010 dilakukan pemugaran. Masjid dua lantai kembali dijadikan satu lantai dengan memperhatikan ciri khas utama berupa tiang kayu serta ornamen khas lainnya. Atap tumpang tetap dipertahankan. Selain itu, keberadaan kolam yang berada di bagian timur masjid diwujudkan kembali.

Dengan harapan mengembalikan pada arsitektur semula, dibangun pula dua bale di sisi timur bangunan masjid yakni Bale Lor dan Bale Kidul. Selain itu juga ditanam Pohon Sawo Kecik di bagian halaman seperti halnya keberadaan pohon tersebut di masjid kagungan dalem lain dengan nilai filosofinya yang tinggi.

Demikian informasi tentang Masjid Pathok Negoro Mlangi Kesultanan Yogyakarta, semoga artikel ini membantu kalian. Tolong artikel wisata religi berupa masjid ini dibagikan agar semakin banyak yang memperoleh manfaat.

Referensi:

Leave a Comment

Selamat Datang di Kota Sejarah Jogjakarta
Selamat Datang di Kota Sejarah Yogyakarta Istimewa
Kampus Negeri di Jogja Kampus Swasta di Jogja Kuliah di Jogja Ujian Masuk
Memilih Kampus Idaman
Cara Memilih Kampus Idaman di Jogja
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Universitas Gajah Mada Yogyakarta Salah 1 Kampus Terbaik
Perguruan Tinggi Negeri yang Ada di Yogyakarta
Perguruan Tinggi Negeri di Yogyakarta Terbaik

Alam

Hutan dan Gunung Pantai Wisata Air Wisata Alam Lainnya

Sejarah

Bangunan Bersejarah Candi Monumen Museum

Seni Budaya

Kebudayaan Kesenian Tradisi

Wisata Lain

Desa Wisata Minat Khusus Wisata Buatan Wisata Religi
Bisnis Investasi Digital Marketing
Investasi Properti Syariah yang Aman dan Menguntungkan
Investasi Properti Syariah yang Aman dan Menguntungkan
Peluang Bisnis Synergy Worldwide Mudah dan Menguntungkan
Jasa Digital Marketing
Jasa Digital Marketing Murah dan Profesional di Jogja
Penginapan Murah di Sekitar Jalan Parangtritis Jogja
Penginapan Murah di Sekitar Jalan Parangtritis Jogja
Guest House Mercury Prawirotaman
Guest House Mercury Prawirotaman Hotel Nuansa Jawa
Guest House Mas Gun
Guest House Mas Gun di Jalan Prawirotaman
Penginapan Murah di Jogja
Penginapan Murah di Jogja bagi Para Wisatawan